HAREWOS ABAH TOA : Fajar Merah di Tepian Setu Sangkan: Sebuah Penghormatan
Hari ini, permukaan air Setu Sangkan tampak sedikit berbeda. Bukan hanya pantulan langit pagi yang tenang, namun ada rona merah dan hangatnya kebersamaan yang terpancar dari tepiannya. Saya, sebagai Kuwu Sangkan, ingin berhenti sejenak dari rutinitas untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh warga yang merayakan Tahun Baru Imlek.
Di desa kita, keberagaman bukanlah sekat, melainkan benang-benang yang menenun identitas Sangkan menjadi lebih kuat.
Mengapa Merayakan di Tepi Danau?
Memilih Setu Sangkan sebagai titik kumpul perayaan bukan tanpa alasan. Air melambangkan ketenangan sekaligus kekuatan yang terus mengalir—seperti harapan kita untuk keberuntungan yang tiada putusnya di tahun ini.
Simbol Akulturasi: Di sinilah tempat semua warga bertemu tanpa memandang latar belakang.
Refleksi Diri: Tenangnya air danau mengajak kita berkaca pada apa yang telah dilewati dan apa yang akan kita bangun bersama ke depan.
Harmoni Alam: Perayaan ini menjadi pengingat bahwa kita hidup berdampingan, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam yang menghidupi desa kita.
Pesan untuk Warga
Kepada saudara-saudaraku yang merayakan: Gong Xi Fa Cai. Semoga kemakmuran, kesehatan, dan kebahagiaan menyertai setiap langkah kalian di tahun ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari denyut nadi desa ini, membawa warna, tradisi, dan semangat kerja keras yang menginspirasi.
Mari kita jaga api persaudaraan ini agar tetap menyala, sehangat lampion yang menghiasi malam, dan sejernih air Setu Sangkan yang menyatukan kita semua.
"Di bawah langit yang sama, di tepi danau yang tenang ini, kita adalah satu keluarga besar Sang Kuwu Sangkan."
Komentar
Posting Komentar