HAREWOS ABAH TOA : Renungan dalam Keheningan: Menemukan Kembali Jati Diri Desa Sangkan
Antara Deru Zaman dan Sunyi yang Hilang Malam ini, ketika riuh rendah aktivitas pasar telah reda dan lampu-lampu rumah mulai meredup, saya duduk di teras kantor desa. Dalam keheningan ini, saya termenung melihat Desa Sangkan yang terus berubah. Kita sering kali terjebak dalam perlombaan mengejar kemajuan fisik beton-beton yang meninggi, jalan-jalan yang diaspal, hingga gawai yang tak pernah lepas dari genggaman. Namun, di tengah gemuruh itu, apakah kita masih sempat mendengar suara hati nurani desa kita sendiri? Esensi dari Keheningan Keheningan bukanlah tanda kekosongan atau kemunduran. Bagi saya, keheningan adalah cermin. Di dalam sunyi, kita tidak bisa berbohong. Sebagai Kuwu, saya merenung: Sudahkah pembangunan ini memanusiakan warga? * Apakah kesejahteraan yang kita kejar telah menggerus rasa gotong royong kita? * Ataukah kita hanya membangun "rumah" tanpa pernah merawat "keluarga"? Desa Sangkan bukan sekadar titik koordinat di peta at...