HAREWOS ABAH TOA : Integritas di Atas Koper Emas: Pelajaran Moral dari Desa Sangkan
Persoalan ekologi seringkali berbenturan dengan dinding tebal keserakahan. Di tengah gempuran ekspansi perkebunan kelapa sawit yang kian menggerus ekosistem
Desa Sangkan, kita disuguhkan sebuah fragmen perjuangan yang langka melalui sosok Adipati Arya Winangun II dan Sang Kuwu Sangkan. Perjalanan mereka menuju "Dayeuh" (kota) untuk menemui pimpinan PT Sandekela Raya bukan sekadar kunjungan birokrasi, melainkan sebuah ujian prinsip.
Diplomasi yang Teruji Suap
Kedatangan kedua tokoh ini ke kantor pusat perusahaan bertujuan mulia: membawa jeritan rakyat Sangkan yang kini hidup di tengah kerusakan alam. Namun, respon yang diterima justru menghina nalar dan harga diri. Direktur perusahaan tersebut membuka sebuah koper yang isinya mampu membuat mata siapa pun terbelalak—tumpukan uang yang nilainya barangkali cukup untuk membeli kesunyian seorang pejabat.
Namun, di sinilah letak pembedanya. Bukan Adipati Arya Winangun II dan Sang Kuwu Sangkan namanya jika mereka silau oleh kilau harta. Dengan lugas dan tanpa keraguan, mereka menolak mentah-mentah upaya suap tersebut.
"Maaf tuan, kami datang ke sini bukan untuk meminta itu. Kami membawa aspirasi rakyat karena daerah kami sudah terkena imbas kerusakan lingkungan akibat perkebunan yang Tuan tanam," tegas Sang Kuwu Sangkan.
Kalimat tersebut merupakan sebuah tamparan bagi praktik korporasi yang sering menganggap segala sesuatu bisa dibeli dengan materi. Adipati Arya Winangun II pun menambahkan dengan wibawa yang tak tergoyahkan bahwa bencana besar sedang mengintai ekosistem mereka, dan satu-satunya tuntutan mereka adalah penghentian aktivitas perkebunan tahun ini.
Muram Durja Demi Keadilan
Meski mereka pulang dengan wajah "muram durja", kemuraman itu bukan karena gagal mendapatkan uang, melainkan karena rasa prihatin atas rendahnya moralitas pihak perusahaan yang mencoba menyuap kedaulatan rakyat. Mereka sadar, tantangan di depan jauh lebih besar daripada sekadar menutup koper berisi uang.
Komitmen di Bale Sawala
Sesampainya di Desa Sangkan, di hadapan rakyat yang berkumpul di Bale Sawala, kejujuran dipaparkan tanpa ada yang ditutupi. Cerita tentang koper itu menjadi simbol bahwa kepemimpinan di Sangkan tidak dapat dibeli. Penolakan mereka adalah bentuk kesetiaan tertinggi kepada tanah kelahiran.
Keputusan rapat di Bale Sawala berakhir dengan satu janji suci: berjuang hingga titik darah penghabisan.
Kesimpulan
Naskah ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa di tengah krisis iklim dan kerusakan ekosistem, kita membutuhkan pemimpin yang memiliki "urat malu" dan integritas setebal baja. Adipati Arya Winangun II dan Sang Kuwu Sangkan telah menunjukkan bahwa keseimbangan alam jauh lebih berharga daripada isi sebuah koper.
Perlawanan Desa Sangkan terhadap PT Sandekela Raya kini bukan lagi sekadar urusan lahan, melainkan peperangan antara harga diri melawan keserakahan korporasi.
Komentar
Posting Komentar