HAREWOS ABAH TOA : Kepemimpinan Berbasis Semesta: Muhasabah di Kaki Gunung Sangkan
Dalam hiruk-pikuk tata kelola pemerintahan desa yang kian administratif, terkadang kita lupa bahwa seorang pemimpin bukan sekadar manajer bagi manusia, melainkan juga penjaga keseimbangan antara warga dan alamnya. Langkah inilah yang diambil oleh Sang Kuwu Sangkan. Di tengah desakan tuntutan zaman, ia memilih menanggalkan sejenak atribut kekuasaannya untuk melangkah menuju kaki Gunung Sangkan, menemui guru spiritualnya, Abah Arjaun.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah muhasabah—sebuah upaya untuk bercermin diri di hadapan semesta.
1. Silaturahmi: Meluruhkan Ego Jabatan
Bagi Sang Kuwu, mendatangi Abah Arjaun adalah cara untuk "mencuci" kembali niat.
Di bawah rimbunnya pohon-pohon tua dan udara pegunungan yang murni, jabatan "Kuwu" terasa begitu kecil di hadapan Sang Pencipta. Silaturahmi ini menegaskan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah ia yang tetap mau menjadi murid, yang bersedia mendengar petuah bijak dari mereka yang lebih dahulu "selesai" dengan urusan dunia.
2.Bermuhasabah dengan Semesta
Mengapa harus di kaki Gunung Sangkan? Alam memiliki frekuensi kejujuran yang tidak dimiliki ruang rapat kantor desa. Di sana, Sang Kuwu diajak untuk melihat:
Akar Pohon: Simbol fondasi kepemimpinan yang harus kuat menghujam ke bawah (masyarakat).
Aliran Air: Simbol kebijakan yang harus mengalir adil tanpa membeda-bedakan kasta.
Keteguhan Gunung: Simbol prinsip yang tidak boleh goyah oleh godaan kepentingan sesaat.
3. Pesan dari Abah Arjaun
Kehadiran figur Abah Arjaun adalah pengingat akan pentingnya kecerdasan spiritual. Seorang guru spiritual tidak akan memberikan solusi teknis soal anggaran desa, melainkan memberikan "kompas" moral.
Bahwa memimpin adalah pengabdian yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh rakyat, tapi juga oleh Sang Pemilik Semesta.
"Pemimpin yang kehilangan koneksi dengan alam, akan kehilangan empati terhadap manusianya."
Kesimpulan
Apa yang dilakukan Sang Kuwu Sangkan adalah sebuah teladan autentik. Di era digital yang serba cepat ini, kita butuh pemimpin yang berani berhenti sejenak, mendengarkan bisikan angin, dan meresapi nasihat guru. Muhasabah di kaki gunung adalah ikhtiar agar setiap kebijakan yang lahir nantinya tidak hanya pro-rakyat, tetapi juga selaras dengan napas semesta.
Sangkan Paraning Dumadi
mengetahui dari mana kita berasal, agar tahu ke mana kita harus melangkah.
Komentar
Posting Komentar