HAREWOS ABAH TOA: Memasuki Gerbang Ramadan di Desa Sangkan: Muhasabah Sang Kuwu
Aroma tanah basah dan riuh suara anak-anak berlari menuju masjid menandai datangnya bulan yang paling dinanti di Desa Sangkan.
Namun, bagi Kuwu Sangkan, awal Ramadan kali ini bukan sekadar seremoni pemukulan bedug atau pawai obor. Baginya, Ramadan tahun ini adalah momentum muhasabah sebuah jeda untuk menengok ke dalam diri sebelum melangkah melayani warga.
Menanggalkan Jubah Jabatan
Di bawah temaram lampu balai desa, Sang Kuwu merenung bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal administratif atau pembangunan fisik jalan desa. Muhasabah di awal bulan suci ini menjadi cermin retak yang harus ia perbaiki. Beliau memaknai bahwa:
Puasa adalah Latihan Empati: Merasakan lapar bukan hanya menahan haus, tapi menyadari masih ada warga di pelosok Sangkan yang mungkin berbuka dengan apa adanya.
Kepemimpinan adalah Amanah Langit:
Setiap kebijakan yang diambil selama setahun ke belakang diuji kembali lewat kejujuran batin di tengah keheningan malam-malam pertama Tarawih.
Kesederhanaan di Tengah Desa
Kuwu Sangkan memilih untuk memulai Ramadan dengan kesederhanaan. Mengurangi protokoler dan meningkatkan dialog di serambi masjid. Muhasabah ini bukan berarti menarik diri dari masyarakat, justru sebaliknya: ini adalah upaya membersihkan niat agar pelayanan kepada warga Sangkan ke depan tidak ternoda oleh ego atau kepentingan pribadi.
"Ramadan adalah waktu di mana kita berhenti sejenak mengejar dunia, agar kita tahu ke mana arah pulang yang sebenarnya."
Sebuah refleksi batin dari sudut desa.
Harapan bagi Warga Sangkan
Melalui muhasabah diri sang pemimpin, diharapkan energi positif ini menular kepada seluruh warga. Desa Sangkan diharapkan tidak hanya bercahaya oleh lampu hias di gerbang desa, tetapi juga bercahaya karena kerukunan warga yang saling memaafkan dan saling menjaga di bulan suci ini.
Ramadan di Desa Sangkan tahun ini adalah tentang kembali ke akar: menghargai sesama, mensyukuri rezeki, dan memperbaiki diri di bawah naungan ampunan-Nya.
Komentar
Posting Komentar