HAREWOS ABAH TOA : Membaca Diri di Balik Cermin: Refleksi Amanah Abah Arjaun untuk Sang Kuwu Sangkan

Kepulangan Sang Kuwu Sangkan dari kediaman guru spiritualnya, Abah Arjaun, bukanlah sekadar kepulangan fisik. Di balik deru mesin kendaraan dan debu jalanan yang tertinggal, ia membawa sebuah "oleh-oleh" yang beratnya melampaui materi: sebuah amanah tersirat yang terus berdengung di telinganya.
Malam itu, di dalam kesunyian kamar pribadinya, Sang Kuwu berdiri mematung. Di hadapannya, sebuah cermin lemari pakaian memantulkan sosok pemimpin desa yang biasanya tampak gagah di mata rakyatnya. Namun, di bawah temaram lampu kamar, pantulan itu terasa berbeda.
Labirin Identitas: Siapa Kita?
"Siapa kita? Kita siapa?" Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan retoris. Dalam kacamata spiritual Abah Arjaun, pertanyaan ini adalah sebuah gugatan terhadap ego.
Sebagai seorang Kuwu (Kepala Desa), seringkali identitas diri melekat erat pada jabatan, wewenang, dan penghormatan. Namun, di depan cermin, semua atribut itu luruh. Cermin tidak melihat SK pengangkatan atau tongkat kepemimpinan. Cermin hanya menangkap sepasang mata yang mencari kejujuran.
Amanah dari Abah Arjaun seolah berbisik: Apakah kau adalah jabatanmu? Ataukah kau adalah pengabdianmu? Jika jabatan dilepas, masih adakah alasan bagi orang lain untuk menghormatimu? Inilah esensi dari "Siapa Kita"—sebuah ajakan untuk menemukan kesejatian diri di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Menelusuri Akar: Dari Mana Kita?
Pertanyaan kedua jauh lebih menggetarkan: "Dari mana kita? Kita dari mana?"
Secara filosofis, ini adalah pengingat akan asal-usul (sangkan paraning dumadi). Sang Kuwu diingatkan bahwa ia berasal dari rakyat, dari tanah yang sama dengan yang dipijak warga desanya, dan kelak akan kembali ke muara yang sama pula.
Menatap cermin sambil merenungi asal-usul adalah cara paling ampuh untuk membunuh kesombongan. Abah Arjaun ingin Sang Kuwu sadar bahwa setiap kebijakan yang ia ambil harus berakar pada amanah Tuhan dan aspirasi rakyat bawah, bukan sekadar ambisi pribadi.
Penutup: Cermin Sebagai Saksi Bisu
Dialog batin yang terjadi di depan cermin lemari itu adalah bentuk "peradilan" paling jujur bagi seorang pemimpin. Amanah tersirat dari Abah Arjaun bukanlah tugas administratif, melainkan tugas eksistensial.
Sang Kuwu Sangkan kini mengerti: Memimpin desa bukan hanya soal membangun jalan atau jembatan, melainkan soal menjawab pertanyaan-pertanyaan besar itu dalam setiap tarikan napas pengabdiannya. Sebelum ia memimpin ribuan orang di luar sana, ia harus selesai dengan dirinya sendiri di depan cermin itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat