HAREWOS ABAH TOA Menatap Lembayung Nagari Tatar Galuh: Refleksi di Ambang Petang
Di bawah naungan langit Tatar Galuh Ciamis, waktu seakan melambat saat matahari mulai menyentuh garis cakrawala. Warna biru yang tadinya benderang perlahan luruh, berganti menjadi sapuan jingga kemerahan yang tumpah ruah—sebuah lembayung yang tidak sekadar fenomena alam, tapi simbol kehangatan tanah legenda.
Senyum Sang Kuwu Sangkan
Di teras sebuah bangunan tua, Sang Kuwu Sangkan duduk termenung. Kursi kayu yang ia duduki mungkin sudah usang dimakan usia, berderit pelan mengikuti gerak tubuhnya yang santai. Namun, ada pemandangan yang menarik di sana: sebuah senyum tipis yang tulus.
Senyum itu bukanlah senyum kemenangan politik, melainkan senyum syukur. Menatap langit Ciamis yang memerah bagaikan melihat cermin dari pengabdiannya. Ada beberapa hal yang tersirat dalam tatapannya:
Kedamaian Nagari: Lembayung yang tenang mencerminkan kondisi rakyatnya yang guyub dan rukun.
Keagungan Sejarah: Warna ungu keemasan di langit seolah mengingatkan kembali pada kejayaan Kerajaan Galuh yang luhur.
Harapan Hari Esok: Senja bukan berarti akhir, melainkan jeda sebelum fajar kembali membawa kerja keras baru.
Makna di Balik Tatapan
Bagi Sang Kuwu, duduk termenung bukan berarti kosong. Di balik diamnya, ia sedang berdialog dengan angin Ciamis. Kursi kayu itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin tidak selalu harus berdiri tegak memerintah; adakalanya ia harus duduk bersimpuh, merenung, dan menyadari bahwa ia hanyalah bagian kecil dari semesta yang maha luas.
"Langit tidak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi. Begitu pula pengabdian, ia akan terlihat indah saat warnanya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, persis seperti lembayung yang memeluk Nagari Galuh pada Sore Hari.
Komentar
Posting Komentar