HAREWOS ABAH TOA Menemukan Diri di Tepian Sunyi: Refleksi Sang Kuwu Sangkan

Di tengah hiruk-pikuk tanggung jawab mengurus rakyat dan kerumitannya, ada kalanya seorang pemimpin perlu "menghilang". Bukan untuk lari dari tugas, melainkan untuk menemukan kembali kompas batinnya. Pemandangan itulah yang tersaji saat melihat sosok Sang Kuwu Sangkan menyepi di tepian danau.
Di sana, alam tidak menuntut laporan atau kebijakan. Hanya ada hamparan air yang tenang dan semilir angin yang membawa aroma tanah basah.
Ritual Sederhana dalam Keheningan
Bagi Sang Kuwu, momen ini adalah bentuk kemewahan yang paling hakiki. Tanpa ajudan, tanpa dering telepon yang tiada henti, ia hanya ditemani oleh dua sahabat setia: segelas kopi hitam dan sebatang rokok.
Kopi sebagai Simbol Kehidupan: Pahit dan manis yang bercampur dalam gelas plastik atau cangkir kaleng itu adalah representasi dari dinamika desa yang ia pimpin. Kadang getir oleh kritik, kadang manis oleh keberhasilan.

Asap Rokok dan Pikiran yang Mengalir: Setiap hembusan asapnya seolah melepaskan beban-beban pikiran yang selama ini menggumpal. Di sela kepulan itu, ide-ide segar seringkali muncul—lebih jernih dibanding saat berada di balik meja kantor.
Danau: Cermin bagi Sang Pemimpin
Memilih tepi danau dengan pemandangan indah bukanlah tanpa alasan. Danau adalah cermin raksasa. Saat airnya tenang, ia memantulkan keindahan langit; namun saat terusik, ia bisa menjadi keruh.
"Seorang pemimpin harus seperti air danau: menenangkan bagi siapa saja yang berada di sekitarnya, namun memiliki kedalaman yang tak terukur oleh pandangan mata."
Pemandangan hijau di seputaran danau menjadi pengingat bahwa tugas utamanya adalah menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam. Di titik ini, Sang Kuwu Sangkan sedang melakukan debirokrasi batin. Ia menanggalkan atribut kekuasaannya dan kembali menjadi manusia biasa yang mengagumi ciptaan Tuhan.
Kesimpulan
Menyepi bukanlah tanda kelemahan atau sikap apatis. Justru, dari kesunyian di tepi danau inilah seorang Kuwu Sangkan mengumpulkan energi baru. Ia
memahami bahwa untuk mendengar suara rakyat dengan baik, terkadang ia harus terlebih dahulu mendengarkan suara hatinya sendiri dalam keheningan.
Pagi itu, di tepi danau yang tenang, kepulan asap dan ampas kopi menjadi saksi bahwa kepemimpinan yang bijak lahir dari perenungan yang mendalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat