HAREWOS ABAH TOA : Menjaga "Urat Nadi" Sangkan: Saat Kuwu Menjemput Semangat Sabilulungan
Di tengah gempuran modernisasi yang seringkali membuat masyarakat menjadi individualis, sebuah pemandangan menyejukkan terlihat di Desa Sangkan. Bukan melalui pengeras suara di balai desa atau sekadar unggahan di media sosial, Sang Kuwu Sangkan memilih cara yang paling purba namun paling berkesan: mendatangi rumah warga satu per satu.
Langkah kaki Sang Kuwu bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan sebuah misi apresiasi terhadap satu warisan budaya yang masih berdenyut kencang di desa ini: Jiwa Gotong Royong.
Sabilulungan: Lebih dari Sekadar Kata
Bagi masyarakat Sangkan, gotong royong bukan hanya slogan di buku PPKn. Ia mewujud dalam semangat Sabilulungan—sebuah filosofi hidup tentang seiya sekata, seiring sejalan, dan saling memikul beban.
"Gotong royong adalah teknologi sosial asli Indonesia yang tidak bisa digantikan oleh mesin apa pun."
Sang Kuwu menyadari betul bahwa tanpa semangat Sabilulungan, pembangunan fisik di desa hanyalah tumpukan semen dan bata tanpa nyawa. Dengan mendatangi rumah-rumah warga, beliau ingin menegaskan bahwa:
Warga adalah Pemilik Warisan: Ucapan terima kasih langsung ini adalah pengakuan bahwa penjaga budaya sesungguhnya bukan pejabat, melainkan warga yang masih mau membantu tetangganya tanpa pamrih.
Merawat Kedekatan: Ketukan pintu Sang Kuwu meruntuhkan sekat birokrasi, menciptakan ruang dialog yang jujur antara pemimpin dan rakyatnya.
Budaya yang Hidup di Ruang Tamu
Aksi "door-to-door" ini mengirimkan pesan kuat bahwa menjaga budaya tidak harus selalu dengan festival besar atau panggung megah. Budaya itu hidup di ruang tamu warga, di teras rumah saat berbincang, dan di bahu para lelaki serta perempuan yang bahu-membahu dalam kerja bakti.
Terima kasih yang diucapkan Sang Kuwu adalah bahan bakar bagi semangat warga. Ketika seorang pemimpin menghargai keringat dan kebersamaan rakyatnya, maka semangat Sabilulungan itu tidak akan pernah padam; ia justru akan semakin membara.
Penutup
Desa Sangkan telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa warisan budaya yang paling mahal bukanlah benda mati, melainkan jiwa yang peduli sesama. Semoga semangat ini terus terjaga, dan semoga langkah Sang Kuwu menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan terbaik adalah kepemimpinan yang hadir dan menghargai.
Komentar
Posting Komentar