HAREWOS ABAH TOA Menjemput Masa Depan dengan Kompas Kagaluhan
Dunia hari ini bergerak dalam kecepatan yang terkadang membuat kita kehilangan arah. Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan pergeseran nilai global, masyarakat Jawa Barat—khususnya yang merasa memiliki keterikatan historis dengan Galuh—dihadapkan pada satu pertanyaan besar: Masihkah Budaya Kagaluhan relevan hari ini?
Kagaluhan bukan sekadar romantisme sejarah tentang sebuah kerajaan kuno atau deretan artefak di museum. Ia adalah sebuah etos, sebuah cara pandang hidup yang berakar pada harmoni. Jika kita membedah nilai utamanya,
Kagaluhan adalah kristalisasi dari konsep Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh.
Kagaluhan di Era Disrupsi
Hari ini, kita melihat polarisasi terjadi di mana-mana, terutama di media sosial. Di sinilah nilai "Galuh" (yang bermakna permata atau hati nurani) seharusnya menjadi kompas. Budaya Kagaluhan mengajarkan kedalaman spiritual dan kehalusan budi pekerti.
Resiliensi Berbasis Tradisi: Di tengah isu kesehatan mental yang marak, prinsip panceg (teguh) dalam jati diri Galuh memberikan jangkar agar manusia tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat yang destruktif.
Kepemimpinan yang Melayani: Konsep Raja Galuh yang dikenal merakyat dan mengutamakan kedamaian daripada ekspansi militer adalah antitesis dari budaya kompetisi tidak sehat di dunia kerja modern.
Bukan Sekadar Upacara, Tapi Aksi
Sayangnya, seringkali kita terjebak memandang budaya hanya sebatas seremoni tahunan atau pakaian adat. Budaya Kagaluhan hari ini seharusnya bertransformasi menjadi:
Ekologi Manusia: Bagaimana kita menjaga alam (Gunung dan Rimba) sebagaimana para leluhur Galuh memuliakan lingkungan sebagai sumber kehidupan.
Literasi Budaya: Menghidupkan kembali naskah-naskah kuno bukan hanya untuk dibaca, tapi diterjemahkan ke dalam solusi problem sosial masa kini.
Identitas Kreatif: Menjadikan estetika Galuh sebagai inspirasi ekonomi kreatif, mulai dari desain produk hingga arsitektur modern yang tetap "bernafas" lokal.
Komentar
Posting Komentar