HAREWOS ABAH TOA Menjemput Ramadan di Kuwu Sangkan: Saat Doa dan Budaya Menjadi Satu Gelas Kopi

Duduk di Kedai Kopi Pandji, ditemani kepulan asap bako yang khas dan aroma kopi yang mantap, membuat pikiran melayang pada rutinitas tahunan di desa kita tercinta, Kuwu Sangkan. Sebentar lagi Ramadan tiba. Namun, bagi kita di sini, Ramadan bukan sekadar pindah jadwal makan. Ia adalah muara dari sebuah prosesi budaya yang sudah mendarah daging.
Harmoni "Abangan" dan "Putihan"
Hal yang paling menarik dari Desa Kuwu Sangkan adalah bagaimana ritual budaya dan napas keagamaan tidak pernah saling sikut. Di banyak tempat, perdebatan antara adat dan syariat seringkali memicu kerutan di dahi. Tapi di sini? Lihatlah para pemangku adat dan pemangku agama duduk melingkar dalam satu barisan.
Ritual menjelang puasa di desa kita adalah bukti bahwa:
Agama memberi roh dan arah pada spiritualitas.
Budaya memberi wadah dan rasa pada kemanusiaan.
Ketika doa-doa dipanjatkan oleh kyai, dan simbol-simbol budaya dipelihara oleh sesepuh desa, di situlah letak kekuatannya. Ini bukan soal syirik atau bid’ah, tapi soal bagaimana warga Kuwu Sangkan menghargai leluhur dan bersyukur kepada Sang Pencipta dalam satu tarikan napas yang sama.
Membersihkan Hati, Merawat Tradisi
Ngabuburit memang asyik, tapi "ngeresik" (membersihkan) diri sebelum puasa lewat ritual budaya jauh lebih sakral. Budaya di desa kita mengajarkan bahwa sebelum menghadap Sang Khalik dalam sebulan penuh ibadah, hubungan dengan sesama manusia dan alam harus diselesaikan dulu.
Tradisi ini adalah jeda. Sebuah momen untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk mencari duniawi. Di Kedai Kopi Pandji ini, kita sering bicara soal harga barang yang naik jelang puasa, tapi ritual di desa mengingatkan kita bahwa ada yang lebih penting untuk dipersiapkan: Kesiapan batin.
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Menjaga ritme antara agama dan budaya adalah tugas kita bersama. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya tahu puasa itu menahan lapar, tanpa tahu bahwa mereka lahir dari tanah yang menghargai harmoni.
Sambil menghabiskan sisa kopi di gelas dan lintingan bako terakhir, mari kita maknai ritual di Kuwu Sangkan bukan sebagai tontonan, tapi sebagai tuntunan. Bahwa menjadi religius tidak harus membuat kita kehilangan jati diri sebagai orang desa yang berbudaya.
Wilujeng mapag sasih saum. Selamat menyambut bulan suci dengan hati yang lapang dan kopi yang tenang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat