HAREWOS ABAH TOA Munggahan di Tepi Danau Sang Kuwu Sangkan: Melarutkan Gengsi dalam Aroma Kopi dan Tembakau
Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa Barat punya ritual tak tertulis yang disebut Munggahan. Biasanya, orang berbondong-bondong ke restoran mewah atau pusat perbelanjaan. Namun, ada kemewahan yang berbeda saat saya memutuskan untuk menepi ke pinggiran Danau Sang Kuwu Sangkan. Di sana, perayaan bukan soal hidangan mahal, melainkan soal koneksi yang kembali terjalin.
Tradisi Tanpa Sekat
Berkumpul di tepi danau bersama warga setempat memberikan perspektif baru. Tidak ada meja formal atau protokoler. Yang ada hanyalah lesehan beralaskan rumput atau tikar pandan, menghadap riak air danau yang tenang. Di sinilah esensi Munggahan yang sebenarnya: persiapan batin melalui silaturahmi.
Dua elemen utama yang menjadi "lem" sosial di sini adalah:
Ngopi Bareng: Bukan kopi artisan dengan latte art rumit, melainkan kopi tubruk hitam pekat yang diseduh dengan air panas dari termos. Pahitnya kopi justru memancing manisnya obrolan.
Ngabako: bagi warga setempat bukan sekadar merokok. Ini adalah ritme. Ada seni dalam meramu cengkeh dan tembakau, sebuah jeda yang membuat percakapan mengalir tanpa rasa terburu-buru.
Menemukan Kedamaian di Sang Kuwu Sangkan
Danau Sang Kuwu Sangkan bukan sekadar latar belakang pemandangan. Keheningan alamnya seolah memaksa kita untuk menaruh ponsel dan benar-benar mendengarkan cerita tetangga sebelah. Ada tawa yang pecah saat membahas panen, atau sekadar diskusi ringan tentang persiapan puasa esok hari.
Dalam kepulan asap tembakau dan uap kopi, perbedaan status sosial seolah menguap. Kita diingatkan bahwa sebelum memasuki bulan suci, yang perlu dibersihkan bukan hanya raga, tapi juga hubungan antarmanusia.
"Munggahan terbaik bukanlah tentang seberapa mewah menunya, tapi seberapa tulus kita saling memaafkan dan berbagi tawa sebelum fajar Ramadan menyapa."
Kesimpulan
Menghabiskan waktu di tepi Sang Kuwu Sangkan mengajarkan saya bahwa kebahagiaan itu sederhana. Cukup dengan segelas kopi, lintingan tembakau, dan kehadiran orang-orang di sekitar, kita sudah siap menjemput Ramadan dengan hati yang lapang.
Komentar
Posting Komentar