HAREWOS ABAH TOA : Refleksi di Tepi Setu Sangkan: Lebih Dari Sekadar Buka Bersama
Berbuka puasa di sebuah restoran mewah mungkin menawarkan kenyamanan, namun berbuka di tepi Setu Sangkan bersama Sang Kuwu dan warga desa menawarkan sesuatu yang jauh lebih mahal: rasa memiliki.
Sore itu, ketika matahari perlahan turun dan membiarkan bayangannya menari di atas permukaan air Setu, suasana kekeluargaan mulai terasa. Ada harmoni yang unik saat kita duduk melingkar, tanpa sekat antara pemimpin desa dan rakyatnya. Di sinilah letak esensi sebenarnya dari silaturahmi.
Mengapa Momen Ini Istimewa?
Dialog Tanpa Sekat: Kehadiran Sang Kuwu di tengah-tengah warga bukan sekadar formalitas. Di sela-sela aroma takjil, percakapan mengalir dari soal panen hingga harapan masa depan desa. Ini adalah bentuk transparansi yang paling jujur.
Magnet Alam Setu Sangkan: Setu bukan hanya sekadar genangan air. Ia adalah saksi bisu denyut nadi ekonomi dan sosial warga Sangkan. Menjadikannya latar tempat berbuka puasa seolah mengingatkan kita untuk terus menjaga kelestarian alam desa sendiri.
Kesederhanaan yang Mewah: Menu yang dihidangkan mungkin sederhana, namun keberanian untuk menanggalkan atribut jabatan dan status sosial demi duduk bersama di atas tikar adalah sebuah "kemewahan" spiritual yang jarang ditemukan di hiruk-pikuk perkotaan.
Membangun Desa dari Meja Makan
Momen ini membuktikan bahwa membangun desa tidak melulu soal semen dan batu bata. Pembangunan mental dan emosional dimulai dari komunikasi yang baik.
Buka bersama ini adalah jembatan sebuah momentum di mana aspirasi warga bertemu dengan restu pemimpinnya dalam suasana yang sangat cair.
"Setu Sangkan sore itu bukan hanya tempat membatalkan lapar, tapi tempat di mana harapan warga dan komitmen Sang Kuwu menyatu dalam satu doa yang sama."
Komentar
Posting Komentar