HAREWOS ABAH TOA : Renungan dalam Keheningan: Menemukan Kembali Jati Diri Desa Sangkan
Antara Deru Zaman dan Sunyi yang Hilang
Malam ini, ketika riuh rendah aktivitas pasar telah reda dan lampu-lampu rumah mulai meredup, saya duduk di teras kantor desa. Dalam keheningan ini, saya termenung melihat Desa Sangkan yang terus berubah. Kita sering kali terjebak dalam
perlombaan mengejar kemajuan fisik beton-beton yang meninggi, jalan-jalan yang diaspal, hingga gawai yang tak pernah lepas dari genggaman. Namun, di tengah gemuruh itu, apakah kita masih sempat mendengar suara hati nurani desa kita sendiri?
Esensi dari Keheningan
Keheningan bukanlah tanda kekosongan atau kemunduran. Bagi saya, keheningan adalah cermin. Di dalam sunyi, kita tidak bisa berbohong.
Sebagai Kuwu, saya merenung:
Sudahkah pembangunan ini memanusiakan warga? * Apakah kesejahteraan yang kita kejar telah menggerus rasa gotong royong kita? * Ataukah kita hanya membangun "rumah" tanpa pernah merawat "keluarga"?
Desa Sangkan bukan sekadar titik koordinat di peta atau kumpulan angka dalam statistik kependudukan. Sangkan adalah warisan rasa, keringat para leluhur, dan harapan anak-anak kita.
Kembali ke Akar: Membangun dengan Hati
Membangun desa tidak bisa hanya mengandalkan angka-angka di atas kertas APBDes. Kita butuh jeda untuk berefleksi. Keheningan mengajarkan kita bahwa:
Kearifan Lokal adalah Fondasi: Modernitas boleh masuk, tapi adat dan etika jangan sampai terinjak.
Keadilan Sosial: Pembangunan yang sejati adalah saat warga yang paling lemah pun merasakan kehangatan dari kemajuan yang kita ciptakan.
Keberlanjutan Alam: Tanah Sangkan adalah titipan, bukan warisan yang bisa kita habiskan semau hati.
Harapan untuk Masa Depan
Saya mengajak seluruh warga Sangkan, mari kita luangkan waktu sejenak dari hiruk-pikuk duniawi. Mari kita dengarkan kembali suara gemericik air sungai kita, bisikan angin di pematang sawah, dan yang terpenting, suara tetangga yang mungkin butuh pertolongan namun malu untuk berucap.
Dalam keheningan malam ini, saya berjanji untuk terus melangkah. Bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pelayan yang berusaha menjaga agar api semangat "Sangkan" tetap menyala di hati setiap warga.
"Jangan sampai kita sampai di puncak kemajuan, namun kehilangan arah pulang ke jati diri kita sendiri."
Komentar
Posting Komentar