HAREWOS ABAH TOA Sang Kuwu Sangkan: Tersenyum dalam Dekapan Semesta
Sore itu, langit di atas huma berwarna jingga kemerahan, seperti sapuan kuas Tuhan yang sedang melukis ketenangan. Di sana, di sebuah gubuk kecil yang menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya padi dan ilalang, Sang Kuwu Sangkan duduk termenung. Tidak ada gurat lelah yang dominan, meski pundaknya memikul beban ribuan harapan warga desa. Sebaliknya, sebuah senyum tipis tetap bertahta di wajahnya—sebuah senyum yang lahir bukan dari euforia, melainkan dari kedamaian batin.
Ia sedang tidak menunggu siapa-siapa. Ia sedang bermuhasabah dengan semesta.
Dialog Sunyi dengan Alam
Bagi Sang Kuwu, huma di sore hari adalah ruang pengadilan yang paling jujur. Di sini, ia melepaskan atribut jabatannya dan kembali menjadi hamba yang kerdil di hadapan hamparan ciptaan-Nya.
Kepada Angin: Ia bertanya, apakah keputusannya selama ini telah menyejukkan hati rakyatnya, atau justru menjadi badai yang meresahkan?
Kepada Tanah: Ia merenung, apakah langkah kakinya selama memimpin telah memijak keadilan, atau justru meninggalkan jejak keangkuhan?
Kepada Padi yang Menunduk: Ia belajar tentang filosofi kepemimpinan yang sejati; bahwa semakin berisi dan berdaya seseorang, seharusnya ia semakin rendah hati dan melayani.
Senyum di Tengah Pergulatan
Mengapa ia tetap tersenyum? Muhasabah bagi Sang Kuwu bukanlah ajang meratapi kegagalan, melainkan cara untuk mensyukuri proses.
"Kepemimpinan adalah titipan, dan alam adalah guru terbaik untuk menjaga amanah tersebut agar tetap membumi."
Senyum itu adalah bentuk penerimaan. Ia sadar bahwa ia tidak sempurna, namun ia berkomitmen untuk terus berbenah. Ia tersenyum karena menyadari bahwa setiap tantangan di desa adalah cara semesta mendewasakannya. Dalam heningnya huma, ia menemukan kembali ritme jantungnya yang seringkali tergesa-gesa oleh urusan birokrasi.
Menjemput Fajar dari Senja
Duduknya Sang Kuwu di huma bukanlah bentuk pelarian. Ini adalah cara ia mengumpulkan energi. Dari muhasabah sore ini, ia tidak hanya membawa pulang ketenangan, tapi juga visi baru.
Saat matahari perlahan tenggelam, Sang Kuwu bangkit dari duduknya. Senyumnya kini lebih bermakna. Ia tahu, esok hari saat ia kembali ke balai desa, ia bukan lagi sekadar pemimpin yang memerintah, melainkan manusia yang telah "selesai" dengan dirinya sendiri dan siap mengabdi pada sesama.
Komentar
Posting Komentar