HAREWOS ABAH TOA : Sangkan Paraning Dumadi: Kala Sang Kuwu Menjemput Hening
Dalam riuh rendahnya hiruk-pikuk bale desa, suara ketukan palu, dan tumpukan berkas administrasi, seorang pemimpin seringkali kehilangan satu hal yang paling krusial: dirinya sendiri. Bagi seorang Kuwu Sangkan, yang memikul amanah bukan sekadar sebagai jabatan, melainkan sebagai pengayom, ada kalanya roda kehidupan membawanya pada titik nadir. Titik di mana raga terasa lelah, dan jiwa merindukan jeda.
Kesunyian: Cermin yang Paling Jujur
Di kala malam mencapai puncaknya dan kesunyian mulai memeluk semesta, di situlah momen muhasabah dimulai. Bagi Sang Kuwu, kesunyian bukanlah sebuah kekosongan, melainkan cermin yang paling jujur. Tanpa ajudan, tanpa pujian warga, dan tanpa topeng wibawa, ia hanyalah seorang manusia biasa yang rapuh di hadapan Sang Maha Pencipta.
Merenung dalam kesunyian adalah cara terbaik untuk bertanya pada nurani:
Apakah kebijakan yang diambil sudah benar-benar memihak mereka yang lapar?
Ataukah hanya sekadar pemuas ambisi dan tuntutan birokrasi?
Berapa banyak keluh kesah warga yang hanya numpang lewat di telinga tanpa sempat menyentuh hati?
Kelemahan Sebagai Kekuatan
Seringkali, seorang pemimpin merasa harus selalu tampil perkasa. Namun, dalam introspeksi ini, Sang Kuwu menyadari bahwa mengakui kelemahan di hadapan Tuhan adalah puncak tertinggi dari sebuah kekuatan. Merasa "lemah" dalam perenungan justru menjauhkannya dari sifat jumawa (sombong).
Ketika ia merasa tak berdaya, ia diingatkan bahwa jabatan Kuwu hanyalah titipan sementara
sebuah "Sangkan" yang akan kembali pada asalnya. Kelemahan ini menjadi nutrisi bagi empati; bahwa ia memimpin manusia yang juga memiliki rasa sakit, bukan sekadar angka-angka dalam data kependudukan.
Menata Langkah dari Titik Nol
Muhasabah diri di tengah sunyi adalah upaya untuk melakukan "pembersihan sisa-sisa debu" yang menempel pada niat awal. Jika di siang hari ia adalah komandan, maka di malam hari ia adalah murid dari kehidupannya sendiri.
Dari perenungan ini, seharusnya lahir seorang pemimpin yang baru—yang lebih bijak, lebih tenang, dan lebih jernih dalam memandang persoalan. Ia kembali ke masyarakat bukan dengan ego yang besar, melainkan dengan semangat pengabdian yang telah dimurnikan kembali melalui doa dan air mata penyesalan.
"Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah merasa lemah, melainkan mereka yang mampu menemukan kembali kompas moralnya di tengah kesunyian dan kelemahan tersebut."
Komentar
Posting Komentar