HAREWOS ABAH TOA Senandung Lirih di Nagari Tatar Galuh: Mencari Sosok "Pinilih" di Bale Nyungcung
Ciamis bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Barat; ia adalah Tatar Galuh, sebuah tanah yang dibangun di atas fondasi martabat (Giman) dan keteguhan hati. Namun, belakangan ini, ada senandung lirih yang terdengar di antara riuh angin di Alun-alun dan ketenangan Situ Lengkong Panjalu. Senandung itu adalah pertanyaan tentang masa depan: Siapa yang akan mendampingi sang "Kuwu Sangkan" di Bale Nagari?
Diplomasi "Sangkan Paraning Dumadi"
Ketika sang pemimpin—yang kita analogikan sebagai Kuwu Sangkan—ditanya soal siapa sosok pendampingnya, jawaban yang muncul seringkali bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah teka-teki. Di Tatar Galuh, politik bukan sekadar hitung-hitungan kursi, melainkan soal "ngukur ka awak" (mengukur kemampuan diri) dan "sinatria".
Pertanyaan "Siapa pendampingmu?" di Bale Nagari Ciamis bukanlah sekadar interogasi administratif. Itu adalah ujian bagi sang pemimpin untuk menunjukkan:
Keselarasan (Harmoni): Apakah pendamping tersebut bisa ngalun dengan visi besar Galuh?
Kapasitas (Kagunaan): Apakah ia mampu menjadi "payung" saat hujan kritik menerpa?
Chemistry (Kanyaah): Apakah hubungan mereka hanya kontrak politik atau pengabdian tulus?
Bale Nagari: Bukan Sekadar Kursi Empuk
Bale Nagari Ciamis adalah saksi bisu sejarah panjang kepemimpinan dari masa ke masa. Di sana, seorang pemimpin dituntut untuk memiliki sifat Prabu, Resi, dan Togok. Saat sang pemimpin masih "bernyanyi lirih" dan belum mengungkap siapa sosok di sampingnya, rakyat sebenarnya sedang diajak untuk bersabar dalam proses "milih anu pinilih".
Ada kekhawatiran yang wajar jika sang pendamping hanya dipilih berdasarkan mahar politik atau popularitas semu. Rakyat Galuh merindukan dwitunggal yang seperti gula jeung peueut—menyatu, manis, dan memberi energi bagi pembangunan daerah yang masih memiliki banyak pekerjaan rumah, mulai dari sektor pertanian hingga pemberdayaan milenial.
Menanti Fajar di Tatar Galuh
Senandung lirih ini tidak boleh berakhir menjadi ratapan. Jawaban sang pemimpin di Bale Nagari nanti haruslah menjadi jawaban yang menenangkan keresahan pasar-pasar tradisional hingga pelosok desa di Rancah atau Kawali.
Ciamis butuh lebih dari sekadar "wakil". Ciamis butuh "Panyaliksik Hati"—sosok yang mampu menerjemahkan visi besar menjadi aksi nyata yang menyentuh perut dan hati rakyatnya.
Politik Ciamis selalu punya cara unik untuk mengejutkan. Seperti aliran Citanduy, ia tampak tenang di permukaan, namun menyimpan arus komitmen yang dalam di bawahnya. Kini, bola ada di tangan sang pemimpin; apakah ia akan memilih pendamping yang hanya bisa "mendengar", atau yang berani "melangkah bersama".
Komentar
Posting Komentar