HAREWOS ABAH TOA Efisiensi atau Mati Suri? Jeritan Pedagang Pasar Tradisional di Tengah Pengetatan Ekonomi
Gelombang efisiensi yang tengah gencar dilakukan, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta dalam skala makro, mulai menunjukkan dampak riil di tingkat akar rumput. Bukan di gedung perkantoran mewah, dampak ini justru paling terasa di lorong-lorong sempit pasar tradisional.
Bagi para pedagang, kata "efisiensi" memiliki arti yang berbeda: daya beli masyarakat yang menurun drastis.
Pasar yang Kian Lengang
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas perdagangan yang tidak sepadat biasanya.
Ma Ijah, seorang pedagang sembako yang telah berjualan selama dua dekade, mengeluhkan kondisi ini.
"Dulu orang beli minyak atau beras bisa stok untuk sebulan. Sekarang, mereka beli eceran, hanya untuk makan hari ini. Efisiensi di rumah tangga mereka artinya pemasukan kami yang terpangkas," keluh Ceu Ijah
Faktor Pemicu Tekanan
Beberapa poin utama yang menyebabkan lesunya ekonomi di pasar tradisional saat ini antara lain:
Pengurangan Tenaga Kerja: Gelombang PHK di sektor industri memaksa keluarga beralih ke mode hemat ekstrem.
Kenaikan Biaya Logistik: Meskipun efisiensi dilakukan di sisi operasional, biaya angkut barang tetap tinggi, membuat harga modal sulit ditekan.
Persaingan Digital: Efisiensi waktu yang ditawarkan belanja online kian menyudutkan pedagang fisik yang masih mengandalkan interaksi tatap muka.
Dilema Pedagang: Menahan Harga atau Gulung Tikar
Para pedagang kini terjepit di antara dua pilihan sulit. Menaikkan harga mengikuti inflasi berarti kehilangan pelanggan, namun mempertahankan harga lama berarti menggerus margin keuntungan yang sudah tipis.
"Kalau ditanya harapan, ya kami ingin ada stimulus nyata. Jangan hanya bicara efisiensi di level atas, tapi peredaran uang di pasar bawah macet," pungkas Ma Ijah
Komentar
Posting Komentar