HAREWOS ABAH TOA Menjaga Nadi Bumi: Perlawanan dari Bale Kadipaten

Di balik rimbunnya hutan Desa Sangkan, sebuah ancaman besar sedang mengintai. Rencana ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh PT Sandakela Raya bukan sekadar urusan bisnis, melainkan lonceng kematian bagi ekosistem yang selama ini menjadi napas kehidupan warga. Pemandangan di ruang tamu Bale Kadipaten Sangkan hari itu menggambarkan ketegangan yang nyata; sebuah titik balik di mana nurani diuji oleh iming-iming investasi.
Ketegasan Sang Kuwu: Alam Bukan Komoditas
Sang Kuwu Sangkan berdiri di garis depan dengan pendirian yang tak tergoyahkan. Baginya, bencana yang mulai melanda desa—mulai dari krisis air bersih hingga hilangnya satwa hutan—adalah bukti otentik bahwa alam sedang meronta. Dalam koordinasinya dengan Adipati Arya Winangun II, Sang Kuwu menyampaikan aspirasi warga dengan lugas:
Ekosistem yang Rapuh: Pembukaan lahan sawit secara masif akan memutus rantai makanan dan merusak resapan air.
Petaka bagi Warga: Alih fungsi hutan hanya akan menyisakan banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau.
Kedaulatan Lokal: Kehidupan masyarakat Sangkan bergantung pada kelestarian hutan, bukan pada upah buruh perkebunan yang tidak seberapa.
"Hutan ini adalah warisan, bukan barang dagangan. Jika kita membiarkan akar-akar sawit mencengkeram tanah Sangkan, maka kita sedang menggali kubur untuk anak cucu kita sendiri." — Sang Kuwu Sangkan.
Diplomasi di Puser Dayeuh
Koordinasi antara Sang Kuwu dan Adipati Arya Winangun II membuahkan hasil yang melegakan. Adipati, yang menyadari bahwa stabilitas wilayahnya bergantung pada kesejahteraan lingkungan, memilih untuk berpihak pada rakyat dan alam.
Sebagai tindak lanjut yang nyata, Sang Adipati memutuskan untuk melayangkan surat resmi kepada pimpinan PT Sandakela Raya di Puser Dayeuh. Langkah administratif ini bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan sikap bahwa:
Izin lingkungan harus ditinjau ulang berdasarkan dampak nyata di lapangan.
Kepentingan ekologis berada di atas kepentingan profit korporasi.
Suara masyarakat Desa Sangkan adalah hukum tertinggi dalam pengelolaan wilayah tersebut.
Kesimpulan: Sebuah Kemenangan Kecil untuk Hutan

Langkah berani dari Bale Kadipaten ini menjadi pengingat bagi kita semua. Perkebunan kelapa sawit seringkali datang dengan janji kesejahteraan, namun tanpa pengawasan ketat dan kepedulian terhadap lingkungan, ia hanyalah "emas hijau" yang membawa petaka hitam. Ketegasan pemimpin lokal seperti Sang Kuwu dan Sang Adipati adalah benteng terakhir dalam menjaga sisa-sisa paru-paru bumi yang kita miliki

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat