HAREWOS ABAH TOA Menjemput Cahaya Galuh: Refleksi Sang Kuwu Sangkan
Melihat kondisi Kagaluhan hari ini, saya melihat sebuah permata yang sedang tertutup debu zaman. Galuh bukan sekadar titik di peta atau deretan angka dalam buku sejarah; Galuh adalah rasa, etika, dan estetika yang seharusnya hidup dalam napas setiap anak cucunya.
1. Galuh Bukan Sekadar Masa Lalu
Banyak orang hari ini terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu—membanggakan prasasti dan silsilah, namun lupa pada "Galuh" yang berarti permata atau hati yang jernih. Menurut hemat saya, Kagaluhan hari ini seharusnya tidak lagi bicara soal perebutan takhta atau batas wilayah, melainkan tentang kedaulatan jati diri. Kita punya filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh—pertanyaannya, apakah itu masih menjadi kompas, atau hanya slogan di dinding balai desa?
2. Tantangan "Panca Tengah" di Era Digital
Dahulu, Galuh dikenal sebagai wilayah yang mampu menyeimbangkan arus dari utara, selatan, barat, dan timur. Hari ini, arus itu bernama globalisasi dan digitalisasi. Saya melihat anak-muda Galuh mulai kehilangan "bunyi" aslinya.
Kekhawatiran: Kita fasih bicara teknologi, tapi gagap bicara tata krama (unggah-ungguh).
Harapan: Kagaluhan hari ini harus bertransformasi menjadi "Galuh Digital"di mana keluhuran budi tetap menjadi sistem operasinya, sementara teknologi adalah alatnya.
3. Ekologi dan Kesucian Tanah
Galuh tumbuh dari keselarasan dengan alam (Gunung dan Hutan).
Hari ini, pembangunan seringkali melupakan napas bumi. Menjadi "Galuh" berarti menjadi pelindung lingkungan. Jika sungai-sungai kita kotor dan hutan kita gundul, maka kita telah mengkhianati amanah para leluhur yang menitipkan tanah ini untuk dijaga, bukan sekadar dikuras.
"Kagaluhan hari ini adalah keberanian untuk menjadi relevan tanpa harus kehilangan akar. Jangan sampai kita menjadi orang asing di tanah sendiri karena kita lebih kenal budaya orang lain dibanding detak jantung budaya kita send
Kesimpulan Sang Kuwu
Kagaluhan tidak boleh mati dalam museum. Ia harus hidup dalam cara kita berdagang, cara kita memimpin, dan cara kita bertetangga. Galuh adalah integritas. Jika itu hilang, maka hilanglah ruh dari tanah ini.
Komentar
Posting Komentar