HAREWOS ABAH TOA : Sang Kuwu Sangkan: Sebuah Renungan dalam Keheningan Sepertiga Malam

Ketika jam dunia seolah berhenti 
berdetak dan hiruk-piruk kekuasaan di Cirebon sedang terlelap, ada sebuah ruang yang tetap terjaga. Di sanalah, dalam balutan hening sepertiga malam, Sang Kuwu menemukan jati diri
kepemimpinannya yang paling murni.
Dialog Tanpa Kata
Bagi banyak pemimpin, malam adalah waktu untuk beristirahat dari siasat politik. Namun bagi Sang Kuwu Sangkan, malam adalah medan perjuangan yang sesungguhnya. Di atas hamparan sajadah, ia melepaskan jubah kebesarannya sebagai penguasa dan kembali menjadi hamba yang kerdil di hadapan Sang Khalik.
Keheningan ini bukanlah kekosongan. Ia adalah dialog tanpa kata antara seorang pemimpin dengan "Pemberi Mandat" yang paling tinggi. Di titik ini, kita belajar bahwa kepemimpinan yang kokoh tidak dibangun di atas mimbar-mimbar pidato yang megah, melainkan di atas sujud-sujud panjang yang basah oleh air mata tanggung jawab.
Antara Takhta dan Tauhid
Seringkali, kekuasaan membuat orang merasa menjadi pusat semesta. Namun, renungan Sang Kuwu Sangkan di sepertiga malam mengajarkan hal yang sebaliknya:
Kerendahan Hati: Menyadari bahwa Cirebon dan segala kemajuannya hanyalah titipan.
Kejernihan Visi: Di tengah kegelapan, batin justru melihat lebih terang mana yang merupakan maslahat umat dan mana yang sekadar syahwat politik.
Keseimbangan: Menghubungkan urusan bumi (pemerintahan) dengan urusan langit (spiritualitas).
"Memimpin bukan tentang memerintah orang lain, melainkan tentang menundukkan diri sendiri di hadapan kebenaran."
Meneladani Spiritualitas Sang Kuwu
Di era modern yang serba cepat dan berisik ini, kita merindukan sosok pemimpin yang memiliki "kedalaman sepertiga malam". Pemimpin yang tidak hanya sibuk dengan citra di layar kaca, tetapi juga sibuk memperbaiki hubungan dengan Penciptanya saat tak ada mata yang melihat.
Renungan Sang Kuwu Sangkan adalah pengingat bagi kita semua: bahwa kebijakan yang adil lahir dari hati yang tenang, dan hati yang tenang hanya didapat dari keheningan doa. Tanpa spiritualitas, kepemimpinan hanyalah mekanika kekuasaan yang kering dan tanpa jiwa.
Penutup
Keheningan malam bagi Sang Kuwu Sangkan adalah sumber mata air kebijaksanaan. Dari sana ia menarik kekuatan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kasih sayang. Sudahkah kita menyisihkan sejenak waktu dalam hening untuk bertanya pada diri sendiri: Untuk apa semua lelah ini jika bukan untuk mencari rida-Nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat