HAREWOS ABAH TOA : Menanam Sabar di Tanah Sangkan: Renungan dari Bale Desa
Menjadi pemimpin di Desa Sangkan bukanlah sekadar duduk di kursi kayu jati di kantor desa atau memakai seragam cokelat yang rapi. Bagi saya, jabatan ini adalah sebuah pengabdian yang kadang kala terasa seperti berjalan di atas bara api, namun harus tetap dengan wajah yang sejuk.
Baru-baru ini, angin kencang berhembus. Ada suara-suara sumbang, tatapan tidak suka, bahkan kritik yang tajam mengenai sikap saya dalam memimpin. Sebagai manusia biasa, tentu ada rasa perih yang sempat mampir. Namun, sebagai Kuwu, saya memilih untuk berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam.
Pemimpin Adalah Wadah, Bukan Sekadar Pengarah
Saya menyadari bahwa seorang pemimpin desa ibarat sebuah wadah. Ia harus cukup luas untuk menampung segala jenis air
baik yang jernih berisi pujian, maupun yang keruh berisi makian. Jika wadah itu sempit dan keras, maka ia akan mudah retak saat terkena benturan.
Ketika ada warga yang tidak suka dengan kebijakan atau sikap saya, saya tidak melihatnya sebagai musuh. Saya melihatnya sebagai cermin.
Mungkin ada komunikasi saya yang kurang sampai.
Mungkin ada harapan mereka yang belum mampu saya peluk.
Atau mungkin, itu adalah cara Tuhan menegur agar saya tidak menjadi sombong.
Membalas dengan Kelapangan Hati
Banyak yang bertanya, "Kenapa tidak dibalas saja? Kenapa diam saja saat dipojokkan?"
Jawaban saya sederhana: Api tidak bisa dipadamkan dengan api. Jika kebencian dibalas dengan amarah, maka Desa Sangkan yang kita cintai ini hanya akan menjadi medan tempur ego. Saya memilih jalan kesabaran bukan karena lemah, tapi karena saya ingin menjaga kerukunan di tanah ini.
Bagi mereka yang belum bisa menerima sikap saya, pintu rumah dan balai desa selalu terbuka. Saya lebih memilih membalas ketidaksukaan itu dengan:
Kerja nyata yang lebih giat. Biarlah hasil pembangunan dan kesejahteraan warga yang berbicara.
Senyum yang tulus. Karena kebencian paling efektif diluluhkan dengan ketenangan.
Doa yang baik. Semoga kita semua diberikan kejernihan berpikir untuk memajukan desa ini bersama-sama.
Penutup: Sangkan yang Lebih Baik
Jabatan Kuwu ini ada batasnya, namun persaudaraan di Desa Sangkan harus abadi. Saya bukan pemimpin yang sempurna. Saya masih belajar setiap hari dari sawah, dari pasar, dan dari setiap teguran warga.
Mari kita letakkan ego masing-masing. Jika ada yang tidak berkenan, mari kita bicara sembari menyeruput kopi di sore hari. Hati yang lapang adalah modal utama kita untuk membangun Sangkan yang lebih maju, lebih bermartabat, dan lebih tenang.
Sabar itu pahit di awal, namun manis buahnya di akhir.
Komentar
Posting Komentar