HAREWOS ABAH TOA; Ang Icep :Kebangkitan Nasional Dari Kaum Pinggiran



Kebangkitan Nasional di Mata Kaum Pinggiran adalah sudut pandang yang sering terlupakan dalam historiografi Indonesia. Narasi arus utama biasanya terpusat pada berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908, para priayi baru, kaum terpelajar kota, dan tokoh elite menak.

Jika lensa sejarah digeser ke kaum pinggiran buruh pelabuhan, petani tanpa tanah, pedagang kecil, pekerja domestik, masyarakat adat—maknanya menjadi lebih kompleks, pragmatis, dan radikal.

Berikut cara kaum pinggiran memandang, merasakan, dan terlibat dalam arus Kebangkitan Nasional:

1. Kritik Terhadap "Nasionalisme Elit"

Di awal abad ke-20, gerakan kebangkitan yang diinisiasi kaum priayi terasa berjarak bagi kaum pinggiran. Organisasi seperti Budi Utomo awalnya lebih fokus pada kepentingan pegawai pribumi, terutama Jawa, dan akses pendidikan bagi kalangan atas.

Perspektif pinggiran:
Kebangkitan Nasional baru dianggap nyata ketika menyentuh isu "isi perut"—penolakan pajak mencekik seperti _landrente_, dan penolakan kerja paksa _rodi/heerendiensten. 
Mereka lebih merasa terwakili oleh gerakan radikal berbasis massa luas seperti Sarekat Islam Merah dan Sarekat Rakyat. Gerakan ini menyuarakan penindasan buruh perkebunan dan petani kecil langsung di lapangan, bukan sekadar diskusi di gedung pertemuan megah.

2. Perlawanan Berbasis Mistisisme dan Ratu Adil
Sebelum konsep "negara-bangsa" modern dipahami akar rumput, Kebangkitan Nasional sering diterjemahkan lewat kacamata mesianistik: kepercayaan akan datangnya Ratu Adil.

Bagi petani yang tertindas pabrik gula kolonial, kebangkitan adalah momentum runtuhnya _jaman edan_ menuju _tata tentrem karta raharja_. 
Gerakan Saminisme di Blora/Rembang yang menolak membayar pajak dan mengabaikan aturan kehutanan Belanda adalah contoh "kebangkitan" versi mereka: perlawanan pasif-massif terhadap modernitas kolonial yang eksploitatif.
3. Tubuh Buruh sebagai Bahan Bakar Perubahan
Pemogokan buruh kereta api VSTP 1923 dan pemogokan buruh pelabuhan adalah pilar penting pergerakan nasional. Bagi kaum pinggiran, kebangkitan bukan sekadar retorika pidato, melainkan pertaruhan nyawa dan mata pencaharian.
"Bagi kuli kontrak di Deli atau buruh pelabuhan di Semarang, kemerdekaan berarti berhentinya cambukan mandor, upah yang layak, dan hak diperlakukan sebagai manusia merdeka—bukan komoditas."
4. Nasionalisme yang Terlupakan di Pinggiran Geografis
Masyarakat di luar pusat kekuasaan, terutama luar Jawa, dan masyarakat adat di pedalaman, sering merasa suara dan identitas lokal mereka tergilas dominasi narasi pusat yang tersentralisasi. Ketika fajar kemerdekaan menyingsing, inklusi mereka masih menjadi tanda tanya.

5. Kaum Santri yang Termarjinalisasi
Santri yang keluar dari pesantren sering berhadapan dengan dunia yang menilai seseorang dari standar formalistik-materialistis: gelar akademik, keterampilan teknologi, dan kapital ekonomi.  
Di titik ini terjadi marginalisasi: kedalaman spiritual dan akhlak mulia dianggap "tidak cukup" untuk bersaing di panggung global.
Secara historis, santri adalah tulang punggung perjuangan bangsa. Namun dalam perjalanan pembangunan, mereka sering ditempatkan di pinggiran. Meski kini ada UU Pesantren, akses terhadap teknologi, ekonomi kreatif, dan ruang publik yang setara masih menyisakan jurang.
Menariknya, kaum marginal biasanya punya daya penyintas luar biasa. "Irisan" keterpinggiran itu justru membentuk mereka menjadi pribadi tangguh, mandiri, dan peka sosial karena merasakan langsung posisi yang tidak diuntungkan.

Ini mempertanyakan ulang: Apakah kita sudah memuliakan penjaga moral bangsa, atau justru meminggirkan mereka ke sudut sepi peradaban?

---

*Kesimpulan: Kebangkitan yang Belum Selesai*

Bagi kaum pinggiran, Kebangkitan Nasional bukan monumen statis yang selesai diperingati tiap 20 Mei. Ia adalah proses yang terus berjalan.

Selama kemiskinan struktural masih ada, penggusuran atas nama pembangunan terjadi, dan hak masyarakat adat belum diakui, maka dari kacamata kaum pinggiran, janji Kebangkitan Nasional masih menjadi utang sejarah yang harus ditagih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat