HAREWOS ABAH TOA : Ang Icep ; Menabur Cinta Pada Rasulullah Saw, Lewat Karamah Qasidah Al Burdah

Pengarang Qashidah al Burdah (QB) Imam Syarafuddin al Bushiri seorang ulama Mutabāhir dlm bidang Kesusastraan Arab mendalami Thariqat al Syadziliyah dan menjadi Mursyid Arbaban Nuhā (Guru Besar yg memiliki keilmuan yg tinggi).

QB Masuk melalui *jalur pesantren* dan tokoh seperti *Sunan Gunung Jati (Cirebon)* dan kemudian melalui tokoh-tokoh abad 19-20 seperti Mbah Mesir.

*Jalur Sanad Jawa (19-20 M):* 

Tokoh-tokoh utama seperti *K.H. Muhammad Dalhar Pesantren Darussalam Watucongol,*(mash ada hubungan keluarga dari jalur kakek Kyai Abdul Ghani (Muntilan Magelang)- kakek dari istri Kyai Fadlil Yani Ainusyamsi, Hj Chusna Arifah binti Muslich binti Kyai Abdul Ghani - KH Muhammad Dalhar al- Majilangi.
Kemudian
Kyai Siroj Payaman, K.H. Ahmad Ngadirejo, Kyai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kyai Abdurrahman Sumolangu, dan K.H. Muhammad Hassan Jazuli, umumnya bersambung pada mata rantai yang sama.

Mursyid Terkemuka:
Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, yang dikenal sebagai salah satu pembawa silsilah utama saat ini. 

Tarekat ini dikenal dengan wirid yang ringan dan relevan bagi kehidupan modern, yang berfokus pada keseimbangan duniawi dan ukhrawi.

*Tarekat Syadziliyah* di Indonesia, khususnya di Jawa (termasuk Jawa Barat/Pasundan), umumnya tersambung melalui guru-guru dari Jawa Timur, Mekah, atau Yaman.
Secara umum, sanad Tarekat Syadziliyah mengikuti jalur berikut: 
Rasulullah Saw
Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Al-Hasan bin Ali
*Syekh Abul Hasan Ali asy-Syadzili (Pendiri)*
Syekh Abul Abbas al-Mursi
Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari
... (bersambung ke guru-guru di Nusantara).

Berikut adalah beberapa jalur utama penyebaran Tarekat Syadziliyah yang umum di Jawa: 

*Pondok Tremas*
*Jalur Pesantren*:

Banyak disebarkan oleh ulama-ulama pesantren, termasuk cabang dari Pondok Tremas.

*Jalur Darqawiyah:*

Salah satu cabang Syadziliyah, Silsilah Tarekat Syadziliyah Darqawiyah tercantum dalam dokumen sejarah sufi. 

Untuk sanad yang sangat spesifik seperti Gatar Pasundan, disarankan untuk mengonfirmasi langsung kepada pimpinan thariqah atau mursyid di lokasi tersebut guna mendapatkan silsilah yang muttashil (tersambung) tertulis. 

Informasi lebih lanjut mengenai Tarekat Syadziliyyah di Jawa Abad 19-20 juga dapat membantu melacak sanad di wilayah Pasundan. 

Kyai Ahmad Fadil (KAF) Salah seorang Kyai muda yg mendalami Sufi Tatar Pasundan yg mengawali membuat terjemahan Qashidah al Burdah dengan bahasa Sunda Sastra karya Imam al Bushiry, Ulama Mursyid dan ahli Tasauf dari Thariqat al Syadziliyah yg bait-bait Qashidah Burdah diterjemahkan oleh Kyai Ahmad Fadil (Pendiri Pondok Pesantren Darussalam Cidewa Ciamis) dgn bahasa yg sangat indah dan sarat makna serta melegenda di Pojok2 Pondok Pesantren di Tatar Pasundan sejak tahun 1930an dgn senandung sastra sunda Qashidah al Burdah dikaji, difahami, dibahas dan diamalkan oleh para ulama sufi Tatar Pasundan seperti KH.Ahmad Sanusi Cantayan dan KH.Masturo Pojǰnpes Al- Masthuriyah Sukabumi, lalu KH. Ishak Farid, Pst Cintawana Singaparna Tasikmaya dan 
 KH. Ilyas Ruhiyat Ponpes Cipasung Tasikmalaya.
KH. Bandanuji, KH.Habibullah Ponpes Dārul.Ulum Ciamis...Jawa Barat, dst.

*Silsilah Sanad Thariqat Syadziliyah*:

 *KH Abdurrozaq bin Abdullah Attarmasi*

Tokoh Thariqah ini sudah ada sejak awal muncul dan berkembang di setiap pesantren, termasuk *Pondok Tremas, terutama sejak awal abad 20..*

 *Efikasi Qashidah Burdah*

Al Kisah ada seorang santri urakan yang pernah mondok di pesantren yang menggilai seni, budaya dan sastra, pernah diajak bergaul dengan syair fenomenal oleh KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, pengasuh/pimpinan pondok pesantren Darussalam Ciamis. Syair tersebut digubah dengan bangga oleh Imam al-Busyiri, seorang pujangga besar dari Mesir, dengan judul “ Qashidah al-Burdah”, yang dianggap sebagai salah satu warisan keindahan tekstual yang menjadi kebanggaan umat Islam.

Al-Burdah adalah kumpulan syair yang isinya kerinduan dan kecintaan sang pengarang kepada Nabi Muhammad. Kekhawatiran dirinya disebut sombong karena merindukan dan mencintai Nabi saw, mendorong Imam al-Bushiri untuk mengungkapkan kedua perasaan tadi melalui gaya bahasa metafora (majaz).

Konon katanya agar dapat memahami setiap bait al-Burdah yang kaya dengan bahasa metafora, seseorang harus belajar ilmu Balaghah terlebih dahulu, sebab makna semantik yang bersembunyi di balik karya sastra ini takan didapat bila ilmu kebahasaan belum dikuasai secara maksimal.
Karenanya menurut beberapa ahli, penggunaan bahasa metafora yang dilakukan oleh Imam al-Busyiri di dalam karya besarnya ini tidak lain hanya untuk menunjukan sikap ketawadhuan (rendah hati), karena dirinya sadar betul betapa jauhnya jarak keshalihan antara dirinya dan Nabi saw. 
Perpaduan yang harmoni antara gaya bahasa dalam teks dan kehidupan nyata dalam lingkup konteks inilah yang menjadikan Imam al-Bushiri sebagai sosok sufi ideal.

*Al-Burdah*, ternyata cukup popular di kalangan umat Islam utamanya di kawasan Melayu. Di Indonesia, syair ini berkembang di lingkungan pesantren-pesantren NU, namun demikian, meskipun struktur anatomi indera pendengaran sang santri urakan tadi terlahir dari Muhammadiyah ‘kultural’, yang tidak terlalu akrab dengan dunia “pershalawatan”, ia menikmati sajian karya sastra ini dengan antusias, sebab keindahan kata-katanya melintasi batas-batas ruang dan waktu.
Syair yang terdiri dari 160 bait ini diterjemahkan dengan baik ke dalam basa Sunda sastra tinggi oleh *KH. Ahmad Fadil, pendiri Pondok Pesantren Cidewa Darussalam Ciamis.*

Terjemahannya itu sangatlah indah lantaran beliau menyamakan irama antara bait teks al-Burdah dengan terjemahannya, gaya bahasanya yang natural, tersampaikannya amanat secara komunikatif, dan apresiasi masyarakat yang tinggi terhadapnya.

Tidaklah mengherankan jika karya monumental tersebut membuahkan julukan sebagai “Ajengan Sastrawan” kepada KH. Ahmad Fadil.

Di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, syair Burdah secara intens dinyanyikan sepulang kuliah subuh, dan di setiap malam minggunya para santri diajak untuk bernyanyi dan mendalami bait-bait kerinduan Imam al-Bushiri kepada baginda Rasulullah lewat al-Burdah ini. Pengajian tersebut dipandu langsung oleh seseorang yang menghabiskan waktunya untuk meneliti kandungan sufistik dari al-Burdah, beliau adalah KH. Fadlil Yani atau yang sering disapa Ang Icep.

Fadlil Yani merupakan sosok yang kumplit. Dia adalah Pemimpin yg dekat dgn berbagai kalangan saat ini mengasuh ribuan kader umat di Pesantren Darussalam Ciamis. Sosok ulama yang disegani semua kalangan.

Ketegasannya dalam memberikan sesuatu yang benar kadang tegas, lugas dan menusuk inti persoalan. Beliau bukan hanya piawai dalam mengkaji khazanah Islam, tetapi juga menawan saat bermusik.

Tampaknya alasan itulah yang mendorong KH. Fadlil Yani untuk terus mengembangkan buah karya sufi besar Imam al-Busyiri dan sang kakek Kyai Ahmad Fadlil (KAF) melalui teks al-Burdah dan terjemahannya.
Ang Icep panggilan akrab KH.Fadlil Yani Ainusyamsi putra keempat dari KH. Irfan Hielmy atau Cucu KH.Ahmad Fadil melanjutkan tirkah (Thariqah) yg dijalankan dan dihayati secara mendalam secara historis, dari KAF. 

Kang Icep ketika masih belajar di Tanah Bani Kinanah (fi al-ardly falāth li bani al Kinānaty) Kairo Mesir, beliau mempelajari dan belajar langsung secara sorogan maupun bandongan kepada para ulama Mursyid Thariqah As Syadziliyah Mesir di Hay Syafi'iyah pelosok jauh dari kota Kairo.

Salah satu ulama dan mursyid Tarekat Syadziliyah yang aktif memberikan pengajaran di Mesir, saat itu khususnya pada era modern (sekitar tahun 1980-an), adalah *Syekh Yusri Rusydi @As-Sayyid Gabr Al-Hasani.*. Dari Syeikh Yusri itulah Kang Icep belajar tentang bagaimana menata kekuatan jiwa lewat pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) salah satu ajaran sufistik dari thariqat as-Syadziliyah.
Sambil menyempatkan waktu untuk mempelajari ilmu Arudl wal qawāfy dari al- 'Alim al 'Allāmah Syeikh Sulaim al.Mashry (Mursyid al fanny-gurubesar seni) termasuk Syeikh "Guru Besar"Seni & Sastra..diKairo Mesir.

Ang Icep pun pernah menjadi murid Syeikh Sulaim saat mengajar di Ma'had Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyah Al -Su'udiyah Cabang Universitas Muhammad ibn Su'ud Mekkah di Jakarta Tahun 1981/1983.

Pengembangan yang ia lakukan adalah dengan memberi aliran musik modern, atau musikalisasi atau mungkin dapat dikatakan, “memusikan” syair Burdah.
Cara ini ia lakukan dengan dua alasan sekaligus: 
*pertama*, sebagai sarana edukasi, 
*kedua*, sebagai media terapi (al-'ilājiyah).
Berdasarkan pengakuan KH. Fadlil Yani sendiri, upaya demikian sangat penting dalam konteks pergelaran musik yang saat ini umumnya bebas nilai, cenderung menampilkan hal-hal yang bersifat hiburan semata, dan cenderung pada pergelaran musik hura-hura, tapi kering makna.

Bersenandung kerinduan lewat Syi'ir Qashidah al Burdah, menghantarkan jiwa pada tempat tinggi nan mulia (maqam ar- arāfiq al-a'lā). Semoga.

Wallahu a'lam Bisshawāb...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salsabila Putri Azela: Bintang Muda dari Ciamis yang Bersinar di Video Klip Elsepta Elkasih

Dian Budiyana Terpilih Aklamasi Pimpin HAPMI Ciamis 2026-2030, Siap Jaring Talenta Emas Galuh

Melalui MOKA ALIT Tyara Kusuma Ciamis Cetak Anak Usia Dini Berpotensi Untuk Ikuti Pasanggiri Tingkat Jawa Barat