HAREWOS ABAH TOA : Bulan Kebangkitan: Saatnya Ciamis Bangkit dari Akar Budayanya
Bulan Mei selalu menjadi momentum sakral bagi bangsa Indonesia untuk merenungi arti kebangkitan. Namun, di Kabupaten Ciamis, tanah yang dulunya mashur sebagai Nagari Tatar Galuh, Hari Kebangkitan Nasional tahun ini tidak hanya diperingati sebagai seremoni politik-historis, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk membangkitkan kembali akar kebudayaan yang mulai tergerus zaman.
Dengan spirit lokal yang membakar dada, “Nanjeur Na Juritan Sangkan Jaya di Buana”, masyarakat Ciamis diajak untuk melihat kembali ke dalam diri melalui filosofi luhur: Purwadaksi.
Nanjeur Na Juritan Sangkan Jaya di Buana bukan sekadar untaian kata puitis; pepatah kuno Sunda Galuh ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Secara harfiah, yang berarti "Unggul dalam pertempuran/kehidupan agar jaya di dunia". Namun, dalam konteks modern dan bulan Kebangkitan Nasional ini, "pertempuran" yang dimaksud bukan lagi angkat senjata melawan penjajah fisik. Ini adalah pertempuran melawan lupa, melawan degradasi moral, dan melawan hilangnya identitas lokal di tengah gempuran globalisasi.
Untuk bisa 'jaya di buana' (sukses di dunia), masyarakat Tatar Galuh harus tangguh, mandiri, dan berkarakter kuat yang fondasinya digali dari bumi sendiri.
Menghidupkan Kembali Filosofi Purwadaksi
Para orang tua dan sesepuh di Tatar Galuh Ciamis selalu menitipkan warisan non-benda yang adiluhung, yaitu ajaran tentang Purwadaksi (Purwa = Awal/Asal, Daksi = Tujuan/Akhir). Filosofi Purwadaksi: Sebuah kesadaran penuh dari mana kita berasal (sejarah, budaya, leluhur) dan ke mana kita akan melangkah (tujuan hidup, masa depan). Orang Galuh yang memegang teguh purwadaksi tidak akan pernah kehilangan arah. Mereka tahu betul akar budayanya, sehingga sekencang apa pun angin modernisasi menerpa, mereka tetap kokoh berdiri.
Kebangkitan nasional bagi Ciamis adalah kebangkitan purwadaksi—kembali mengenali jati diri sebagai masyarakat yang ramah, bergotong-royong, dan religius (Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh).
Jasmerah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah
Mengingat kembali pesan epik dari Sang Proklamator, Bung Karno, dalam pidato terakhirnya yang terkenal: Jasmerah—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Menghubungkan benang merah antara Hari Kebangkitan Nasional yang diinisiasi oleh Boedi Oetomo pada 1908 dengan sejarah lokal Ciamis adalah hal yang niscaya. Galuh adalah sebuah kerajaan besar yang meletakkan dasar-dasar kedamaian dan diplomasi di Nusantara. Melupakan sejarah Galuh sama saja dengan mencabut nyawa dari raga Ciamis itu sendiri. Jika bangsa ini bangkit karena kesadaran sejarahnya, maka Tatar Galuh Ciamis pun harus bangkit dengan cara yang sama.
Kesimpulan: Kebangkitan dari Akar Kebudayaan
Hari Kebangkitan Nasional di Ciamis harus menjadi momentum transisi. Kebangkitan ekonomi dan infrastruktur memang penting, namun Kebangkitan Budaya adalah modal utamanya. Ketika masyarakat Ciamis paham akan Purwadaksi-nya, menghargai amanat Jasmerah Bung Karno, dan mengamalkan spirit Nanjeur Na Juritan Sangkan Jaya di Buana, maka Ciamis tidak hanya akan menjadi daerah yang maju secara fisik, tetapi juga agung secara peradaban.
Mari bangkit, Tatar Galuh Ciamis! Jaga budayanya, rawat sejarahnya, jemput masa depannya.
Komentar
Posting Komentar