HAREWOS ABAH TOA: DANG'Q :Hari Jadi Ciamis ke-384: Merawat Akar Budaya, Membangun Masa Depan Tatar Galuh
Tepat pada 12 Juni 2026, Kabupaten Ciamis merayakan hari jadinya yang ke-384. Momen bersejarah ini bukan sekadar seremoni seremonial tahunan, melainkan pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan akar panjang peradaban Tatar Galuh yang pernah menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan di tanah Sunda.
Menelusuri Akar Sejarah Galuh
Ciamis memiliki keterikatan historis yang kuat dengan Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan tertua di Tatar Sunda. Merujuk pada naskah sejarah dan Babad Galuh, tanggal 12 Juni 1642 ditetapkan sebagai tonggak berdirinya Ciamis modern. Wilayah ini sempat menjadi saksi bisu dinamika politik masa lampau, mulai dari pengaruh Mataram Islam hingga era kolonial.
Nama "Ciamis" sendiri menyimpan filosofi mendalam. Dipercaya berasal dari frasa “Cai Amis” (air yang manis), legenda setempat mengisahkan sumber air di wilayah ini memiliki rasa khas yang menjadi denyut kehidupan sejak dahulu. Filosofi ini telah melekat pada karakter masyarakatnya: ramah, lembut, dan senantiasa menjunjung nilai silih asih.
384 Tahun Perjalanan: Menjaga Identitas di Tengah Modernisasi
Dalam kurun waktu hampir empat abad, Ciamis telah melewati berbagai fase krusial—dari masa kerajaan, kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga era otonomi daerah. Setiap fase meninggalkan jejak yang membentuk identitas Ciamis hari ini.
Di bidang kebudayaan, Ciamis tetap konsisten merawat kesenian tradisional seperti wayang golek, pencak silat, dan degung. Kekayaan seni pertunjukan seperti Ronggeng Gunung, Bebegig Sukamantri, hingga tembang Sunda tetap lestari. Tradisi kearifan lokal seperti Seren Taun, Hajat Bumi, Nyangku, dan Mapag Sri terus dihidupkan. Bahkan, tradisi kontemporer seperti “Nyiar Lumar” di Astana Gede Kawali yang lahir pada 1998, membuktikan bahwa modernisasi tidak lantas mengikis jati diri masyarakatnya.
Secara ekonomi, Ciamis terus bertransformasi. Sebagai daerah agraris yang dikenal dengan komoditas padi dan teh, kini Ciamis mulai serius menggarap sektor pariwisata dan UMKM. Destinasi unggulan seperti Situ Lengkong Panjalu, wisata religi Makam Boros Ngora, serta keasrian Gunung Syawal menjadi daya tarik baru yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi bagi warga lokal.
“Guyub Ngawangun Galuh”:
Refleksi dan Proyeksi
Memasuki usia ke-384, peringatan tahun 2026 menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus proyeksi. Refleksi untuk menghargai keringat pendahulu, dan proyeksi agar generasi masa kini mampu membawa Ciamis melangkah lebih maju tanpa tercerabut dari akar budayanya.
Mengusung tema"Guyub Ngawangun Galuh", Pemerintah Kabupaten Ciamis menegaskan bahwa kemajuan daerah hanya bisa dicapai melalui semangat kebersamaan. Kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, pemuda, petani, hingga akademisi menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan masa depan.
Menjawab Tantangan Masa Depan
Di usia yang kian matang, Ciamis dihadapkan pada tantangan global yang nyata: percepatan digitalisasi, ancaman perubahan iklim, hingga penguatan daya saing ekonomi lokal. Namun, modal sosial warga Ciamis yakni nilai"Tatakrama, Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh"dianggap masih sangat relevan sebagai kompas dalam bermasyarakat.
Harapannya, Ciamis ke depan tidak hanya maju dalam hal infrastruktur, tetapi juga unggul dalam kualitas SDM yang kreatif, inovatif, sekaligus memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga kelestarian alam.
Penutup
Hari Jadi ke-384 adalah milik seluruh warga Galuh. Mari rayakan dengan syukur, rasa bangga, dan komitmen untuk terus berkontribusi. Sebab, Ciamis yang hebat hari ini adalah hasil jerih payah hampir empat abad, dan Ciamis yang gemilang di masa depan adalah tanggung jawab kita bersama.
Dirgahayu Kabupaten Ciamis ke-384! Galuh Ciamis, Tatar Sunda Puseur Budaya. Maju, Ngahiji, Sejahtera!
Penulis: Dadang M. Rochlik
Komentar
Posting Komentar