HAREWOS ABAH TOA ; Membangun Infrastruktur Diri: Menjemput Kebangkitan Nasional dari Tatar Galuh Ciamis
Hari Kebangkitan Nasional selalu identik dengan narasi pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, dan lompatan teknologi. Namun, di tengah gemuruh peradaban modern, kita sering kali lupa bahwa pondasi terkuat sebuah bangsa tidak melulu soal beton dan aspal, melainkan keandalan "infrastruktur diri"sebuah benteng mental, karakter, dan spiritual yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur budaya.
Jika kita menengok ke arah tatar Galuh Ciamis, kita akan menemukan miniatur bagaimana infrastruktur diri itu seharusnya dirawat. Nagari Galuh, dengan warisan sejarahnya yang adiluhung, menawarkan penawar rindu di tengah gempuran modernisasi yang kian agresif.
Ciamis tidak sekadar bertahan; wilayah ini menjadi ruang kontemplasi di mana nilai Silih Asih, Silih Asah, silih Asuh bukan lagi sekadar slogan di buku sejarah, melainkan napas kehidupan masyarakatnya.
Tantangan hari ini tentu berbeda dengan era Boedi Oetomo pada tahun 1908. Hari ini, musuh nyata kita adalah polarisasi digital yang tajam, di mana algoritma media sosial lebih sering memecah belah ketimbang menyatukan. Kita juga dikepung oleh pencarian popularitas semu demi pengakuan instan di dunia maya. Di titik inilah, kebudayaan Galuh hadir sebagai jangkar.
Kearifan lokal masyarakat Ciamis mengajarkan kita untuk memperkuat kedalaman substansi ketimbang sibuk memoles kulit luar. Budaya Galuh menuntut manusia untuk memiliki keteguhan komitmen (pengkuh agamana), keluhuran budi (luhung ilmuna), dan kehalusan budaya (jembar budayana).
Menjemput Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dari sisi budaya Nagari tatar Galuh berarti melakukan rekontekstualisasi makna bangkit itu sendiri.
Bangkit tidak selalu berarti berlari mengejar apa yang ada di depan, tetapi juga keberanian untuk menengok ke belakang, memeriksa kembali akar identitas yang mulai keropos. Ketika infrastruktur diri setiap anak bangsa telah kokoh oleh nilai budaya, maka polarisasi digital tidak akan mampu menggoyahkan jemari kita untuk tetap menenun persatuan, dan popularitas tidak akan lagi menjadi berhala baru yang merusak moralitas.
Jangan pernah Melupakan Sejarah
Komentar
Posting Komentar