HAREWOS ABAH TOA; Sang Putra Pribumi: Memaknai 384 Tahun Ciamis dalam Denyut Nadi Kagaluhan
Tanggal 12 Juni bukan sekadar deretan angka di kalender bagi saya pribadi, melainkan sebuah simpul waktu yang sakral. Di Tanggal dan bulan yang sama, 384 tahun silam, Kabupaten Ciamis menancapkan tonggak sejarahnya. Bagi saya, kebetulan tahun kelahiran saya di 1975 adalah undangan semesta untuk terus merawat dan menjaga napas Tatar Galuh dengan penuh dedikasi.
Angka 384: Manifestasi Kosmologis Galuh
Angka 384 bukan sekadar usia administratif. Ia adalah kode etik dan filosofi hidup yang terpatri dalam budaya kita:
Angka 3 (Tritangtu di Buana): Melambangkan keseimbangan hidup manusia. Romo, Resi, Ratu—tiga pilar yang harus bersinergi dalam menata kehidupan agar tetap harmonis dengan semesta.
Angka 8 (Kujang - Kukuh Kanu Jangji): Kujang bukan sekadar senjata, melainkan simbol komitmen. Angka delapan yang menyerupai bentuk tak terhingga adalah pengingat akan Cakra Galuh Rahayu. Bahwa janji untuk menjaga tanah leluhur adalah janji abadi yang harus tetap kukuh (kokoh).
Angka 4 (Catur Unsur Alam): Simbol kompas kehidupan. Air, Api, Angin, dan Bumi adalah elemen dasar yang membentuk eksistensi manusia. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan Ciamis terletak pada kemampuannya menyelaraskan potensi alam dengan kebijaksanaan manusia.
Perisai, Pita, dan Identitas yang Mengakar
Melihat lambang Milangkala 384 dengan perisai dan lilitan pita, saya teringat pada Purwadaksi. Sebuah pertanyaan fundamental: Ti mana urang, urang ti mana? Saha urang, urang saha? (Dari mana kita, dan siapa kita?).
Pita yang melilit perisai adalah simbol ikatan yang menjaga Panji Kabupaten Ciamis tetap tegak. Ia adalah benteng pertahanan jati diri di tengah arus modernisasi. Kita tidak boleh melupakan sejarah; Galuh Purba, Galuh Bihari (masa lalu), hingga Galuh Kiwari (masa kini). Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Galuh-nya Ciamis, Ciamis-nya Galuh adalah napas yang mengalir di setiap nadi masyarakat kita.
Filosofi Panji dan Sinergi Dinamis
Panji Kabupaten Ciamis, dengan Medali Payung Kuning dan semboyan Mahayuna Ayuna Kadatuan, menyimpan pesan tentang memuliakan kejayaan dan kebesaran negeri. Warna-warna dalam panji tersebut bukan sekadar pemanis visual, melainkan kode filosofis tentang kemuliaan, keberanian, dan kesucian hati para pemimpin serta rakyatnya.
Memaknai 384 tahun Ciamis berarti kita harus membangun Sinergi Dinamis. Kita tidak bisa terpaku pada masa lalu sebagai pajangan museum, namun kita juga tidak boleh melangkah tanpa pijakan akar budaya.
Sebagai Putra Pribumi, saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan akar budaya Kagaluhan sebagai kompas dalam menjawab tantangan zaman. Mari kita buktikan bahwa meski usia bertambah, semangat kita untuk menjaga Ciamis tetap muda, segar, dan terus berkarya demi kejayaan Nanjeur Na Juritan, Sangkan Jaya Di Buana.
Dirgahayu Kabupaten Ciamis ke-384. Galuh Salawasna!
Oleh: Suryana Hidayat
Komentar
Posting Komentar