HAREWOS ABAH TOA: SANG PUTRA PRIBUMI :GUYUB NGAWANGUN GALUH, SANGKAN JAYA DI BUANA
Kabupaten Ciamis kini menapak usia baru yang sangat matang, 384 tahun. Sebuah perjalanan waktu yang panjang bagi sebuah negeri yang berdiri di atas fondasi kebesaran nama Kerajaan Galuh. Menyambut momentum sakral ini, dinas terkait kembali menggebrak dengan agenda tahunan Galuh Ethnic Carnival (GEC) 2026. Di balik riuh rendah persiapan kostum, parade, dan sorot lampu panggung, ada sebuah pesan mendalam yang tersirat di lembar baliho acara: “Meneguhkan Kemandirian, Mengukuhkan Ketangguhan, Memantapkan Keberdayaan.” Namun, mari kita sejenak merenung lewat harewos—bisikan kecil dari sudut rasa seorang putra pribumi. Apakah untaian tema megah itu akan bermuara menjadi penggerak nadi kehidupan masyarakat, ataukah ia hanya akan berakhir sebagai slogan yang menguap bersama riuhnya tepuk tangan penonton di sepanjang rute karnaval?
Tagar #GuyubNgawangunGaluh yang digaungkan bukan sekadar pemanis di media sosial. Kata guyub adalah ruh, sebuah manifesto gotong royong yang menjadi warisan genetika leluhur kita. Membangun Ciamisatau dalam rasa sosiologis-historis kita sebut Galuh tidak bisa bertumpu pada pundak pemerintah daerah semata. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) mungkin sukses mengemas acara ini secara visual, tetapi esensi utamanya ada pada seberapa jauh seluruh elemen masyarakat merasa kaerlo atau memiliki identitas tersebut.
Karnaval etnik ini harus dibaca sebagai ruang refleksi, bukan sekadar etalase tontonan gratis. Ketika kesenian tradisional dari berbagai pelosok kecamatan diturunkan ke jalanan kota, di situlah letak ujian kita. Apakah kita bangga dengan ke-Galuh-an kita, atau kita hanya sekadar menjadi penikmat sesaat yang setelah acara bubar, kembali lupa pada nasib situs-situs cagar budaya, nasib para pelaku seni tradisional, dan nasib kesejahteraan para petani di pedesaan?
Membangun kemandirian dan ketangguhan ekonomi, budaya, serta sosial di era digital ini menuntut konsistensi. Kreativitas yang ditampilkan dalam Galuh Ethnic Carnival harus mampu bertransformasi menjadi nilai ekonomi yang mandiri bagi masyarakat lokal. Wisatawan yang datang jangan hanya membawa pulang foto digital, tetapi harus membawa pulang rasa kagum, produk UMKM lokal, dan cerita bahwa Ciamis adalah daerah yang berdaya.
Guyub ngawangun Galuh, sangkan jaya di buana. Kalimat ini adalah doa sekaligus lecutan semangat. Menjadi jaya di dunia (jaya di buana) bukanlah mimpi utopis jika pondasi kebersamaan kita kokoh. Melalui momentum Hari Jadi ke-384 ini, mari jadikan perhelatan budaya ini sebagai jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu Galuh dengan tantangan masa depan.
Saatnya seluruh putra pribumi Tatar Galuh, dari yang muda hingga yang tua, menyatukan langkah. Jangan biarkan karnaval ini berlalu tanpa makna. Mari kita buktikan bahwa kemandirian dan ketangguhan itu nyata ada di dalam darah dan tindakan kita sehari-hari, demi kejayaan Ciamis yang kita cintai.
Suryana Hidayat
Komentar
Posting Komentar